mengapa liburan di desa terasa lebih memulihkan daripada di kota

I

Pernahkah kita pulang dari sebuah liburan yang seru di kota besar, tapi sampai di rumah rasanya malah butuh liburan tambahan untuk pulih? Kita berkeliling dari satu pusat perbelanjaan ke tempat wisata modern. Kita berpindah dari satu kafe estetik ke kafe lain yang sedang viral. Kita sibuk mengejar jadwal kereta api dan menavigasi peta digital. Seru, memang. Tapi saat merebahkan diri di kasur rumah, badan dan pikiran rasanya remuk redam. Sekarang, bandingkan ketika kita menghabiskan waktu di sebuah desa yang tenang. Kita mungkin hanya duduk di teras, melihat hamparan sawah, dan mendengar suara jangkrik. Tidak ada jadwal pasti. Tidak ada keharusan untuk mengejar apa-apa. Ajaibnya, kita pulang dengan pikiran yang luar biasa jernih dan tenaga yang terasa penuh kembali. Mengapa melakukan lebih sedikit hal di desa justru membuat kita merasa jauh lebih hidup? Mari kita bedah misteri ini bersama-sama.

II

Mari kita mundur sejenak untuk melihat sejarah spesies kita. Otak yang kita gunakan untuk membalas rentetan email kerja dan menavigasi kemacetan hari ini, adalah otak yang sama persis dengan yang dimiliki nenek moyang kita puluhan ribu tahun lalu. Secara evolusioner, kita dirancang untuk hidup dan berkembang di alam terbuka. Kita berevolusi menjadi ahli dalam mendeteksi perubahan arah angin. Kita peka pada suara gemerisik daun di hutan. Namun tiba-tiba, hanya dalam sekejap mata sejarah peradaban, kita mengurung diri di dalam kotak beton raksasa bernama kota. Kota memborbardir indera kita tanpa henti. Suara klakson mobil, papan iklan bercahaya neon, hingga bunyi notifikasi gawai yang bersahut-sahutan. Otak kita terus-menerus bekerja sangat keras menyaring ribuan informasi visual dan audio ini setiap detiknya agar kita tetap waras. Proses penyaringan tanpa henti inilah yang diam-diam sangat menguras energi mental kita.

III

Masalahnya, kita sering kali terjebak dalam sebuah ilusi. Kita merasa kota adalah pusat kebahagiaan karena ia memicu dopamine, hormon penantian dan antusiasme. Kita mengejar kesenangan instan di tengah keramaian. Tapi, kebahagiaan sesaat bergaya urban ini menuntut harga yang sangat mahal dari kapasitas mental kita. Para ahli psikologi kognitif menemukan bahwa manusia sebenarnya memiliki dua jenis sistem perhatian. Salah satu jenis perhatian ini sifatnya sangat menguras energi, dan ironisnya, itulah yang terus-menerus diperas oleh gaya hidup kota modern. Lalu, apa jenis perhatian yang satu lagi? Dan apa rahasia tersembunyi di balik gemericik air sungai atau hembusan angin di desa yang ternyata mampu meretas ulang sistem saraf kita hanya dalam hitungan menit?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang memukau. Teman-teman, mari berkenalan dengan konsep Attention Restoration Theory atau Teori Pemulihan Perhatian. Di lingkungan kota, kita terus menggunakan directed attention atau perhatian terarah. Kita harus fokus agar tidak tertabrak kendaraan saat menyeberang jalan. Kita harus fokus mengabaikan suara bising saat mengobrol di kafe. Otak secara aktif memblokir distraksi, dan proses ini secara harfiah membakar cadangan energi di otak depan kita. Sebaliknya, saat kita berada di desa, alam memicu apa yang disebut soft fascination atau pesona lembut. Melihat awan bergerak lambat, dedaunan yang bergoyang, atau aliran air sungai sama sekali tidak menuntut otak untuk fokus secara paksa. Perhatian kita tersita secara alami, santai, dan tanpa usaha. Saat soft fascination terjadi, sebuah keajaiban biologis dimulai. Mode waspada atau fight or flight dari sistem saraf simpatik kita perlahan mati. Otak kemudian menyalakan sistem saraf parasimpatik, yakni mode rest and digest atau istirahat dan cerna. Detak jantung kita melambat secara teratur. Kadar hormon stres seperti kortisol anjlok drastis. Pada momen inilah, otak kita akhirnya mendapat jeda yang sesungguhnya untuk memperbaiki sel-selnya dan memulihkan diri.

V

Tentu saja, kita tidak harus memusuhi kota. Kota adalah tempat kita berkarya, membangun inovasi, dan terhubung dengan laju dunia. Namun, kita juga harus jujur dan sadar akan batasan biologis kita sebagai manusia. Sesekali, otak kita butuh diet ketat dari hiruk-pikuk dan stimulasi berlebih. Menepi sejenak untuk liburan ke desa bukanlah sekadar romantisme masa lalu atau tren pelarian semata. Ini adalah sebuah kebutuhan biologis yang berakar sangat dalam pada DNA kita. Jadi, saat kalender liburan berikutnya tiba, mungkin kita tidak perlu menyusun rencana tamasya yang padat di tengah belantara beton yang baru. Cobalah cari tempat di mana kita bisa membiarkan alam mengambil alih kendali. Cukup duduk diam, bernapas lebih panjang, dan biarkan keheningan desa merawat otak kita yang kelelahan. Kadang-kadang, obat yang paling mutakhir untuk pikiran yang rumit adalah kesederhanaan yang menenangkan.